Semua orang bisa merasakan rindu. Mendefinisikannya, merasakannya, dan mengalaminya.
Aku pikir rindu itu saja sudah romantis untuk dirasakan. Walau terkadang juga menyakitkan.
Begitulah.... semua hanya bisa dirasakan.
Kadang ada perasaan rindu yang lebih dari sekedar menyakitkan dari menahan rasa rindu itu sendiri. Kau tahu apa itu? Ya, ketika rindu itu sendiri bukan hanya terpisah jarak, akan tetapi lebih kepada karena terpisahkan oleh waktu.
Rindu karena waktu itu jauh lebih menyakitkan, sebab itulah jarak yang sebenarnya, bukan? Pertama, waktu yang memisahkan diantara dua kehidupan; Kedua, waktu yang membuat seseorang berada dalam perubahan.
Jika rindu semacam itu dirasakan, maka yang bisa dilakukan hanyalah berdoa untuk segala kebaikan.
Di satu sisi, mungkin bukan seseroang yang berubah akan tetapi diriku sendiri yang juga harus berubah. Sebab aku masih selalu memposisikan diriku disaat aku benar-benar kita bisa seperti yang dulu.
...dan diakhir tulisanku hari ini, aku ingin menutupnya dengan sebuah penggalan lirik lagu:
"bila malam telah datang, terkadang ingin ku tulis semua perasaan.
Kata orang rindu itu indah, namun bagiku ini menyiksa,
sejenak ku pikirkan untuk ku benci saja dirimu ~ ~ ~
namun sulit ku membenci."
-Jakarta, di sudut rindu yang masih inginkan dia yang dulu-
Definisi Rindu untuk yang Telah Berlalu
Tentang Sahabat
Aku tidak mengerti tentang arti kehilangan yang sesungguhnya, namun yang jelas sama seperti manusia lainnya pasti aku tidak ingin merasakannya...
Bicara tentang arti kehilangan memang salah satu yang mungkin pernah aku rasakan adalah kehilangan sosok sahabat yang hingga saat ini aku bahkan merasa menjadi seorang pecundang yang enggan untuk mencari tahu dimana keberadaannya. Aku terlalu pengecut untuk bisa tahu dimana dia, ya, rasa sebagai pecundang itu hadir sebagai salah satu ketakutanku sendiri untuk kembali memperkenalkan diriku. Aku terlalu merasa sangat bersalah hingga aku bahkan tidak berani menyebutkan namaku di hadapannya. Aku takut. Aku khawatir.
Satu yang ingin aku darinya, aku berharap dia bisa baik-baik saja dengan kehidupannya.
....TO BE CONTINUED.
Dentang Jam Berbunyi Pukul Tiga Pagi
Dentang jam berbunyi pukul tiga pagi. Kentara ada kikuk yang siap
berkikuk di masa satu dekade beranak pinak tujuh tahun lalu. Ganjil,
terhitung tujuh belas tahun. Aku belum mengerti apapun kecuali tunduk
pada aturan yang menahun. Ibu menyetel alarm untuk terbangun.
Dentang jam berbunyi pukul tiga pagi. Barangkali kikuk sudah tidak
berjaya lagi di eranya kini. Aku sedikit mengerti. Kikuk tak lagi
berfungsi. Ibu menyetel alarm pada jam yang lebih canggih.
Dentang jam berbunyi pukul
tiga pagi. Tidak seperti Cinderella yang beringsut dini hari, Ibu
beringsut dari alam mimpi pada seperempat pagi. Aturan menahun yang tak
pernah berganti. Kini Ibu menyetel alarm dengan kecanggihan yang semakin
canggih.
Sajak untuk Ibunda saya yang selama tujuh belas tahun ini selalu mengurangi jatah waktu tidurnya hanya untuk 'menyekolahkan' saya hingga detik ini. Ibu, aku bangga! Satu kalimat tanya yang selalu tersimpan dibenak saya dan (mungkin) saya tidak memerlukan jawaban dari pertanyaan ini sebab saya sudah pasti tahu jawabannya, "Ibunda, apakah kau tidak merasa lelah?" Terimakasih, Ibu. :')
... Aku mengalami kegilaan sendiri dalam dunia yang semakin canggih ini. Merasa diri semakin menunggal dalam lingkup yang justru orang lain bisa saling bersapa dengan mudahnya. Mendua. Bahkan beramai-ramai dalam jejamak yang tak terhitungkan oleh jemari.
Kawan atau apalah itu yang biasa orang sebut sebagai sahabat ataupun pujaan hati, terkadang aku merasakan kehadiran mereka hanya sebagai manekin-manekin yang diprogram oleh mesin-mesin yang canggih. Katanya 'sih' berjejaring sosial. Saling tahu, tapi tak saling peduli.
Bandingkan saja, bukankah sapaan apakabar pada "chat" jauh lebih baik dari sekedar saling memposisikan diri dengan ungkapan yang begitu panjang lebar pada kolom "status"?! Bagaimana aku tidak semakin gila dalam kebenaran sepi yang dirubung keramaian. Ini benar-benar gila! -STS-
Payung Teduh with "Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan"
Hai guys, kali ini saya akan berbagi sebuah artikel review lagu dari salah satu band di negeri ini yaitu Payung Teduh. Mungkin dari kalian belum banyak yang tahu band ini, ya, bisa dibilang saya juga baru tahu akhir-akhir ini. Padahal band ini sudah terbentuk sejak tahun 2007. But, first time saya mendengar salah satu lagu dari band ini (sebut saja judul lagunya Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan), saya langsung jatuh hati dengan lirik yang disuguhkan. Pokoknya pemilihan diksi yang digunakan dalam lirik lagu tersebut benar-benar 'ciamik' deh. Bayangkan, dari judulnya saja sudah bikin hati terenyuh (terutama untuk para kaum hawa). I think this song's very romantic! :D
Penasaran dengan interpretasi lagu Payung Teduh dengan liriknya yang selalu meneduhkan dan membuat suasana hati menjadi tenang dan nyaman dengan alunan akustiknya? Yuk, check it out!
Tak terasa gelap pun jatuh, diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya
Dari penggalan lirik lagu tersebut benar-benar bisa dibayangkan, betapa sang kekasih (seorang pria) begitu menghargai wanitanya hingga ia merasa suasana malam yang begitu dingin berasa tak berbintang sebab bagi si pria bintang dihatinya hanyalah wanita pujaannya itu. Yeah, u're so very beautiful tonight, beb! (So sweet banget kan ya? Perempuan mana yang nggak klepek-klepek!) :D
Lalu mataku merasa malu, semakin dalam ia malu kali ini
Ditengah suasana demikian nampak malu-malu keduanya (cieee, mesem-mesem). "Saat mata kita saling tatap sepertinya hanya sepasang bola matamu yang mampu kulihat dalam pancarannya yang menyilaukan. Sungguh, penuh sirat makna." Kurang lebih seperti itu yang diutarakan si pencipta lagu tersebut. (Ekhem.. ekhem..)
Kadang juga ia takut tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya
Di malam hari menuju pagi, sedikit cemas banyak rindunya
Namun dari hal yang tengah mereka jalani saat ini, terkadang muncul rasa khawatir jika keadaan seperti demikian tidak mampu terulang dan cepat berlalu begitu saja apa yang akan terjadi? Tentu perasaan rindu yang akan menyelimuti. (Aish, takut LDR bang? Rela menahan jutaan rindu? Mending nggak usah deh, nyelekit! Emang rindu bisa terbayar dengan sepiring nasi dan uang satu gepok?! Belum lagi kepercayaan yang selalu dihantui dengan rasa khawatir. Jangan deh, jangan! Mungkin 'jarak jauh' lebih cocok jadi istilah buat tendangan daripada buat suatu hubungan. #CURCOLgagalLDR) :D
Ok, guys! Saya rasa itu saja postingan kali ini. The last, saya harap tidak ada pihak manapun yang tersinggung dari postingan ini. Just for fun! ^_^
Terimakasih Payung Teduh untuk lirik lagunya yang sudah menginspirasi.
Sumber gambar : https://www.tumblr.com/search/untuk%20perempuan%20yang%20sedang%20di%20pelukan
Aku Enggan Pulang!
Kota seribu wali...
Cirebon.
Dalam perasaan yang tumpang tindih, ada rindu yang dibekam oleh kecewa
Aku enggan pulang!
Dari beribu kenangan yang melekat diingatan dan kadang terlupakan
Aku tetap enggan pulang
Bukan aku tak ingin menyapamu, tapi aku enggan jatuh dalam perangkap pesakitan
Hingga aku berkata lagi, tetap, aku enggan pulang!
Semoga kiranya kita bisa bersua kembali
Walau entah kapan, sampai aku tak lagi berkata "aku enggan pulang!"
#Ngahuleng #4
… Lalu bukan berarti aku tidak lagi mempercayai adanya persahabatan jika
sahabat selalu mengecewakan sebab aku masih memiliki hati. Hebatnya
hati, ia selalu memerlukan kelapangan yang tak terukur untuk bisa
memaafkan siapapun. Tanpa terkecuali. Bukan hanya sekedar musuh, tapi
juga sahabat. Sepertiku yang selalu membutuhkannya sebab memaafkan
seorang sahabat lebih sulit rasanya daripada memaafkan seorang musuh.
Dari diam yang tak berkesudahan ini, aku ingin mengkhatamkannya. Aku
tidak ingin lagi bermain dalam permainan petak umpet yang merumitkan
selama hidupku, sahabatku bersembunyi dibalik perasaan bersalahnya, dan
aku bersembunyi dibalik amarahku.
Namun jika perasaan itu masih juga
menyalahinya, barangkali dia perlu tengok kisah Soekarno-Hatta. Dibalik
kehebatan sebagai proklamator, apakah mereka tidak perlu membangun
persahabatan yang hebat pula? Aku merinding membaca risalah-risalah
jejak sejarah itu. Nyatanya, Hatta tidak pernah melupakan sahabatnya,
Soekarno, selama 14 tahun yang tak pernah dijumpainya lagi usai
mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Dan akhirnya dalam keruntuhan
bintang sahabatnya yang tak bersinar lagi di era 50’an, tetaplah Hatta
menyempatkan diri menjenguk sahabat terdekatnya itu dalam suasana duka,
19 Juni 1970 tepat tiga hari sebelum Bung Karno meninggal dunia. Ya,
pada akhirnya Hatta juga memerlukan kelapangan hati untuk Bung Karno
yang pernah berkata “Hatta dan aku tak pernah berada dalam
getaran-getaran gelombang yang sama.”
Naskah Drama Sangkuriang
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2015
NASKAH DRAMA “SANGKURIANG”
Narator:
Tumang : Ini pintalan benangnya, Tuan Putri! Sok mangga!
Narator:
Adegan 2
Narator:
Tibalah sangkuriang di sebuah hutan.
Adegan 3
Narator:
Dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Dan.....
Tak lama kemudian si Tumangpun sekarat kemudian mati.
Adegan 4
Sangkuriang : Bunda, ini teh daging rusa hasil tangkapan simkuring.
Tu, Tumang sudah mati bunda. Si Tumang teh geus maot.
Narator:
Dayang Sumbi pun berdoa kepada para dewata agar bisa dipertemukan kembali dengan putranya. Doanya didengar para dewata penghuni kayangan. Dayang Sumbi diberi kemudaan dan kecantikan abadi, bahkan lebih cantik dari sebelumnya.
Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang yang telah melanglang buana ke seluruh penjuru bumi memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, Sangkuriang terkejut karena semuanya sudah berubah. Dia tambah terkejut saat di jalan bertemu seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah Dayang Sumbi. Namun mereka tak saling mengenali.
Narator:
Narator:







